Selasa, 27 Desember 2011

makalah muslim kaffah


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Agama  Islam  adalah  agama  bagi  kehidupan  umat  manusia. Tidak ada pihak manapun  yang  mengetahui  masalah  kebutuhan  dasar  manusia  yang  akan  membawa keselamatan diri, keluarga, dan masyarakat banyak, kecuali Allah SWT sebagai Khaliknya. Melalui ketentuan syari’at agama Islam, yang berisi berbagai perintah, larangan  dan  petunjuk-petunjuk-Nya, dimaksudkan  hanyalah  untuk  kemaslahatan hidup manusia di dunia dan di akhiratnya.
Terdapat  lima bidang besar kandungan ajaran Islam itu, meliputi : 1) Akidah; 2) Syari’at / Ibadah khash; 3)  Mu’amalah dunyawiyah; 4)  Akhlak; dan 5) Ilmu pengetahuan  dan   Manajemen.  Kelima bidang  tersebut dilihat  dari  aspek  studi / materi  ajar  tentang  agama  Islam,  bukan dari agama Islam sebagai tuntunan amaliah dan pembangunan  rasa keagamaan umat. Karena setiap seseorang bertindak  berkegiatan, maka  ketika  itu  bangunan  aqidahnya, ibadahnya, akhlaknya  perlu  menyertainya  secara  bersamaan.  Demikian   juga, makna  agama  Islam  sebagai  agama penyelamat  kehidupan  umat  manusia,  adalah  dilihat  dari  himpunan  kesatuan  ajaran di atas  menjadi  satu kesatuan  ( kaffah ) dalam  pribadi  seorang  muslim. Hal  itu, artinya bahwa  agama Islam  berfungsi  pada diri  penganutnya  itu sebagai  panduan dan tuntunan  atau  hudan li al-nas  ( petunjuk  bagi  kehidupan  manusia ), baik  individu atau  kolektifnya. Hal  ini  di pertimbangkan, oleh  karena  kehidupan  itu sangat komplek, sedangkan klasifikasi  bidang  ajaran  di atas,  hanya  konsumsi  bagi  pengetahuan  agama  saja. Karena itu, orang  yang  dijanjikan  masuk  surga, adalah   mereka  yang   beriman  disertai  amal  salih.  Keimanan  disertai   kesalihan  beramal  itu,  bila dilengkapi  dengan  ilmu   pengetahuan,  maka  pemiliknya  akan  memperoleh derajat  lebih dari  yang lainnya. Di sini pentingnya  iman, ilmu  dan  amal  menyatu  pada  diri  seorang  muslim.



B.        Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat diambil beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa pengertian muslim ?
2.      Apa pengertian kaffah?
3.      Bagaimana karakteristik muslim kaffah?
4.      Apa bentuk kepribadian muslim yang kaffah?
C.     Tujuan Masalah
Dari rumusan masalah diatas bisa diambil beberapa tujuan masalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui pengertian muslim
2.      Untuk mengetahui pengertian kaffah
3.      Untuk mengetahui karakteristik muslim kaffah
4.      Untuk mengetahui bentuk kepribadian muslim yang kaffah





                                   

                       




BAB II
PEMBAHASAN

A.       Pengertian  Muslim
Pengertian muslim dalam  arti bahasa adalah  orang yang menyerah, yang patuh dan tunduk, yang menyerahkan. Sedangkan menurut  arti istilah adalah  orang yang menyerah dan tunduk patuh lahir dan bathin kepada Allah dan menyerahkan jiwa, semua miliknya, hidupnya, matinya dan  semua amalnya semata-mata kepada Allah. Dalam  surat Luqman dijelaskan yang artinya :



“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS Luqman, 31: 22)[1]
B.        Pengertian Kaffah
Dengan penuh kasih sayang, Allah menyerukan kepada hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa memeluk dan mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh, bukan secara setengah-setengah. Seperti yang difirmankan-Nya:


Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara  telah keseluruhannya.
         Pemahaman secara kaffah dalam pemurnian ilmu sesuai keasliann yang disampaikan nabi saw adalah juru selamat dunia akherat bagi umat manusia. Tidak ada penambahan dan penafsiran sesuai kepentingan hajat hidupnya dengan mengemukakan pendapat sebagai alibi pembenaran ajaran sesatnya.
         Pengertian kaffah dalam risalah ini adalah  pengamalan atas ilmu seutuhnya sesuai dengan yang tersurat dalam Al Qur’an dan hadits nabi saw yang shoheh. Sebab nabi saw telah memperingatkan dalam sabdanya “ Wakulla bid’atin dholalah.” artinya segala penambahan (diluar sunah nabi saw adalah sesat.)” Sebagai contoh beberapa bentuk penyimpangan oleh sebab kelalaian manusia, yang menyebabkan dirinya menjadi tidak kaffah, Allah swt bersirman :


Artinya : Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. (QS Al Baqoroh 204)[2]
Di awal-awal surat al Baqarah, Allah  menceritakan tentang karakteristik manusia yang digolongkan ke dalam tiga kelompok: Mukmin, kafir dan munafik. Maka pada ayat yang mulia ini, Allah menyerukan kepada mereka yang beriman itu untuk beristiqamah dengan ajaran Islam yang sesungguhnya, Islam yang bersih dari segala bentuk kekufuran dan kemunafikan. Karena segala bentuk kekufuran dan kemunafikan itu adalah bagian dari amal dan perbuatan syetan yang berusaha secara terus menerus untuk menggelincirkan manusia ke dalam jurang kehancuran.
Ada beberapa Imam yang memaknai kaffah diantaranya yaitu :
Imam ath Thabari menerangkan makna ‘kaffah’ di dalam tafsirnya adalah :“Perintah melaksanakan seluruh syari’at-syari’at-Nya (Islam) dan hukum-hukum hudud-Nya dengan tidak mengurangi sebagiannya dan mengamalkan sebagiannya. Yang demikian itu dimaksudkan karena ‘kaffah’ itu merupakan sifat dari pada Islam, maka ini dapat ditakwilkan “Masuklah kamu dengan menagamalkan seluruh ajaran-ajaran Islam, dan janganlah kamu mengurangi sedikitpun dari padanya wahai ahli Iman dengan Muhammad dan dengan apa yang ia datang dengannya.” Tafsir ath Thabari, Jaami’ al Bayaan fie Ta’wiil al Qur’an, 2/337.
         Al Ustadz Sayyid Quthb rahimahullah beliau mengatakan: “Tatkala Allah menyeru orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam Islam secara kaffah (total). Dia juga mengingatkan mereka dari mengikuti langkah-langkah syetan. Karena di sana tidak ada kecuali dua arah. Masuk ke dalam Islam secara kaffah atau mengikuti langkah-langkah syetan, Petunjuk atau kesesatan, Islam atau jahiliyah, Jalan Allah atau jalan syetan, Petunjuk Allah atau kesesatan syetan. Dengan ketegasan seperti ini seharusnya seorang muslim mampu mengetahui akan keberadaannya, sehingga tidak terombang-ambing, tidak ragu-ragu dan tidak bingung di antara berbagai jalan dan arah.[3]
         Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya  menafsirkan makna ayat yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”   Ialah : “Masuklah ke dalam ketaatan seluruhnya.” Ia menyitir pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Abul ‘Aliyah, Ikrimah, Rabi’ bin Anas, As-Suddiy, Muqatil bin Hayyan, Qatadah, Adh-Dhahhak, berkata mereka bahwa makna ( كافة ) dalam ayat tersebut: “Beramallah dengan semua amal & seluruh bentuk kebajikan.[4]



C.       Pengertian dan Pemahaman Islam Kaffah.
Islam kaffah maknanya adalah : Islam secara menyeluruh, yang Allah ‘Azza wa Jalla perintahkan dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 208. Perintah kepada kaum mu`minin seluruhnya.
Memeluk dan mengamalkan Islam secara kaffah adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus dilaksanakan oleh setiap mukmin, siapapun dia, di manapun dia, apapun profesinya, di mana pun dia tinggal, di zaman kapan pun dia hidup, baik dalam sekup besar ataupun kecil, baik pribadi atau pun masyarakat, semua masuk dalam perintah ini : “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh).
Dua ayat dalam surah Al-Baqarah, yang pertama pada ayat ke 208, dan kedua pada ayat ke-185 merupakan dasar pembahasan kita pada topik ini.
Islam kaffah maknanya adalah Islam secara menyeluruh, dengan seluruh aspeknya, seluruh sisinya, yang terkait urusan iman, atau terkait dangan dengan akhlak, atau terkait dengan ibadah, atau terkait dangan mu’amalah, atau terkait dangan urusan pribadi, rumah tangga, masyarakat, negara, dan yang lainnya yang sudah diatur dalam Islam. Ini makna Islam yang kaffah.Namun, sebelum membahas tentang Islam yang kaffah : apa maknanya dan bagaimana bentuk riil dari Islam yang kaffah ini? Sebelum kita mengetahui, seperti apa islam yang kaffah tersebut, apakah sudah pernah ada penerapan Islam secara kaffah? Apakah pernah agama Islam ini, sejak awal diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hari ini, pernahkah diterapkan secara kaffah ataukah belum Jawabannya adalah pasti : bahwa Islam sudah pernah diterapkan secara kaffah. Islam secara kaffah sudah pernah dipahami dan diamalkan oleh generasi terbaik umat ini, yaitu generasi para shahabat Nabi ridwanallahi ‘alahi jami’an baik secara zhahir maupun secara bathin.
- Secara zhahir : tampak dalam berbagai amalan mereka, baik dalam urusan ibadah, akhlak, maupun muamalah.
- Secara bathin : yakni dalam keikhlasan, kebenaran dan kejujuran iman, dan takwa.
Semua itu telah diterapkan para shahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam di bawah bimbingan langsung Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berkesinambungan dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Ayat demi ayat turun, surat demi surat turun untuk mereka dengan disampaikan dan diajarkan langsung oleh Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam kepada mereka.
Ketika turun ayat tentang ibadah, maka Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam langsung mempraktekkan ayat tersebut, yakni mempraktekkan bagaimana cara beribadah yang dimaukan dalam ayat tersebut.
Ketika turun ayat tentang iman, maka Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam pun merinci makna yang terkait dengan iman tersebut.[5]
Kehidupan beragama, atau agama bagi kehidupan, atau hudan li al-nas ( petunjuk bagi umat manusia / Q.S. Al-Baqarah: 185) terbangun dari satu kesatuan ajaran / kaffah ( menyeluruh ), Q.S. al-Baqarah : 208.  Karena itu, penyampaian ajaran agama oleh Nabi SAW meliputi dua bentuk:
Pertama, bentuk ta’lim ( pengajaran ); dalam Alqur’an banyak diungkap penyampaian ajaran agama melalui ta’lim ini, seperti diungkap dalam Q.S. Al-Baqarah: 129, dengan tiga tahapan:  تلاوة(bacaan produktif dan responsive),تعليم (proses pendewasaan dan pengembangan sikap/ pengajaran ), تزكية (bersih diri dari berbuat kurang baik);Q.S. Jum’ah: 2; dan Q.S. Ali ‘Imran: 164; dan ayat lainnya. 
Kedua, bentuk uswah hasanah ( contoh yang baik ), sebagaimana diungkap Q.S. al-Ahzab : 21 yang artinya :  Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Ta’lim(pengajaran) sangat diperlukan, guna antisipasi kemajuan dan perkembangan kehidupan umat dan pertanggungjawababan keilmuan, sekalipun karakter ilmu bersifat bayan ( penjelasan ) dan pemikiran; juga ciri ilmu itu detail dan parsial. Posisi ilmu dalam agama Islam sangat kokoh, menuntut dikuasai oleh setiap umatnya, sekalipun dalam batas tertentu, karena kemampuannya. Tidak dibenarkan satu keyakinan dan amal dalam Islam tanpa didukung oleh argument keilmuan ( Q.S. al-Isra : 36 ). Sedangkan uswah hasanah, memiliki karakter konprehenshif, menyeluruh ( kaffah ); sekalipun empiris, tetapi mengandung muatan spirit yang besar yang bisa mempengaruhi orang lain.
Q.S.al-Ahzab: 21, di atas mengisyaratkan hal tersebut dengan tegas, bahwa uswah hasanah itu berhubungan erat dengan harapan pertemuan dengan Allah SWT, hari akhirat dan banyak ingat kepada Allah SWT (dzikr Allah katsiran). Sekalipun terbatas, uswah hasanah bisa ada dan dimiliki seseorang selain Rasul SAW, sekalipun orang tersebut tidak beragama, bila ketiga potensi dasar dirinya berfungsi secara baik sebagai manusia. Tiga potensi dasar diri itu, meliputi: 5 fungsi indra; 2 fungsi hati ( merasa baik dan buruk, benar dan salah, bahagia dan sedih); dan 1 fungsi nurani (jastifikasi terhadap kebenaran, kebaikan dan kebahagiaan hakiki dan universal). Ketiganya, dipastikan  hidup bersamaan dan saling berhubungan dalam setiap apa yang dikatakan dan dilakukan seseorang tsb.[6]  
D.    Karakteristik Muslim Kaffah
         Karakteristik alami muslim kaffah adalah penting bagi kesejahteraan manusia, dengan catatan hal tersebut tidak berlebih-lebihan dan dapat dikontrol. Kecenderungan untuk membuktikan dirinya memotivasinya untuk mencari sisi yang terbaik dari dirinya, kepuasan yang dia dapat dari kesadaran akan kualitas yang baik ia miliki akan memotivasi dirinya untuk berusaha lebih keras untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Tetapi apabila hasrat untuk membuktikan diri ini belebihan dan lepas kontrol, maka hasrat ini akan menjadi menjijikkan, penyakit berbahaya yang menjadikan seseorang sombong dan takabur, dia akan meremehkan teman sejawatnya, walaupun kualitas yang ia miliki jauh di bawah apa yang ia ceritakan pada orang lain.
         Sangat jelas bahwa manusia itu cenderung lalai dan tidak peduli dari pada mencari apa yang benar, karena lebih gampang terjatuh dari pada bangkit, dan lebih gampang lalai dari pada mengikuti aturan. Sehingga manusia memerlukan sebuah pengingat untuk mengingatkan dia setiap dia lupa dan setiap langkahnya tergelincir dari jalan yang lurus.
         Allah SWT tidaklah menurunkan agama Islam dari langit ke tujuh sebagai teori untuk didiskusikan atau kalimat-kalimat suci yang dihafal dan diucapkan untuk mencari keberkatan tanpa mengetahui artinya. Allah SWT menurunkan agama ini untuk mengatur hidup individu, keluarga, dan masyarakat luas. Sebagai rambu-rambu yang akan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya:
“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus” (QS. Al Maidah 5: 15-16)[7]
Allah mengingatkan kita orang-orang yang beriman agar masuk kedalam Islam secara sempurna. Sempurna dalam arti kata tidak terikuti langkah-langkah syaitan.
Ada beberapa ciri-ciri orang yang masuk kedalam islamsecara menyeluruh dan sempurna:
1. Mengerjakan atau meninggalkan sesuatu karena Allah Swt.
Tidak mau berbohong bukan karena takut pada manusia tapi takut pada Allah. Mengerjakan shalat, puasa dan berhaji bahkan berbuat baik demi mendapat keridhoan Allah. Apa yang tiak Allah sukai ditinggalkannya karena takut murka Allah.
2. Tidak mengharap imbalan dan sanjungan dari manusia.
Bagi manusia, jika kita menguntungkan dia maka dia akan baik pada kita. Tapi jika kita tidak memberi keuntungan lagi padanya maka dia akan menjadi musuh kita. Kata Imam Ghazali, Orang-orang yang bersahabat karib tatkala memiliki kepentingan yang berbeda akan menjadi musuh. Bahkan anak bisa menjadi musuh orang tuanya.
3. Sangat mengharap balasan dari Allah Swt.
Apapun yang dilakukannya dia selalu bergantung dan meminta pertolongan pada Allah. Sekecil apapun yang dikerjakannya dia meminta kekuatan pada Allah. Pada waktu makan dia betul-betul meminta agar apa yang dimakannya akan membuat dia sehat. Ketika berkendaraan membaca bismillah mengharap keselamatan dari Allah. Belajar dan berusahapun juga mengharap ridho Allah agar diberi kemudahan dalam menghadapinya.
4. Sangat takut akan dosa dan azab Allah Swt.
Orang yang mau menahan nafsunya agar tidak tergelincir kedalam dosa. Dia tidak ingin memakan sesuatu yang berasal dari sumber yang haram. Daging yang tumbuh dari yang haram, nerakalah tempatnya. Ingatlah jika dewasa nanti pastikanlah kita bekerja ditempat yang jelas sumber uangnya itu halal.
5. Sangat harap pada buah kebaikan.
Seperti kisah Ashabul Kahfi yang selamat terkurung dari dalam goa karena kebaikan yang pernah dilakukannya. Oleh karena itu perbanyaklah amal kebaikan dan niatkan segala sesuatu itu karena Allah. Semua itu insya Allah tidak sia-sia disisi Allah.[8]


E.     Bentuk Kepribadian Muslim Kaffah
Pengertian kepribadian muslim adalah kepribadian yang menunjukkan tingkah laku luar, kegiatan-kegiatan jiwa, dan filsafat hidup serta kepercayaan seorang Islam. Lebih lengkapnya definisi kepribadian muslim itu sendiri ialah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya baik tingkah laku luarnya, kegiatan-kegiatan jiwanya, maupun filsafat hidup dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Tuhan penyerahan dirinya kepada-Nya.
Pembentukan kepribadian itu berlangsung secara berangsur-angsur, bukanlah hal yang sekali jadi, melainkan sesuatu yang berkembang. Oleh karena itu, pembentukan kepribadian merupakan suatu proses. Akhir dari perkembangan itu kalau berlangsung dengan baik akan menghasilkan suatu kepribadian yang harmonis. Kepribadian itu disebut harmonis kalau segala aspek-aspeknya seimbang, kalau tenaga-tenaga kerja seimbang pula sesuai dengan kebutuhan.
         Teori kepribadian muslim dari para cendekiawan muslim harus dapat mengungkapkan apa pengertian ”kepribadian muslim” dan tidak perlu menjiplak sarjana psikologi barat karena mereka berteori yang kreatif tetapi ”ngawur”.Untuk mengantisipasi teori psikologi barat tersebut, Dr. Fadhil al-Jamaly menggambarkan kepribadian muslim yang kaffah, yaitu sebagai muslim yang berbudaya dan tanpa akhir ketinggiannya. Dia hidup dalam lingkungan yang luas tanpa batas ke dalamnya, dan tanpa akhir ketinggiannya. Dia mampu menangkap makna ayat yang menyatakan ”Aku akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran-Ku di ufuk langit dan didalam dirinya sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Allah Swt itu benar (Muslim Sajadah :41). Kepribadian muslim seperti digambarkan di atas mempunyai hubungan erat dalam suatu lingkaran hubungan yang meliputi : Allah Swt Alam, dan Manusia Dengan membentuk kepribadian muslim yang kaffah, manusia banyak menggambarkan dirinya dengan bimbingan petunjuk Ilahi dalam rangka mengemban tugasnya sebagai khalifah Allah Swt di muka bumi, dan selalu melaksanakan kewajiban sebagai hamba Allah melakukan pengabdian kepada-Nya.
         Kepribadian yang seperti itu tidak ditemui dalam teori barat. Karena psikologi barat banyak dipengaruhi oleh filsafat materialistis yang menjadi tujuan hidup. Kalaupun ada mereka menyebut Tuhan, agama, dan keyakinan akan tetapi semuanya itu terpisah dari pergaulan dan tata laksana kegiatan duniawi.
         Berangkat dari kepribadian muslim yang kaffah, maka kepribadian tersebut terbagi dua macam, yaitu :
1.   Kepribadian kemanusiaan (basyariyah). Kepribadian kemanusiaan dibagi dua bagian, yakni :
a.       Kepribadian individu, yaitu meliputi ciri khas seseorang dalam bentuk sikap dan tingkah laku.
b.      Kepribadian ummah, yang meliputi ciri khas kepribadian muslim sebagai suatu ummah (bangsa / negara) muslim yang meliputi sikap dan tingkah laku ummah muslim yang berbeda dengan ummah lainnya.
2.   Kepribadian Samawi Yaitu corak kepribadian yang dibentuk melalui petunjuk wahyu dalam kitab suci al-Qur’an, yang antara lain difirmankan oleh Allah Swt sebagai berikut yang artinya :
”Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu menceraikan kamu dari jalannya; yang demikian itu diperintahkan Allah Swt supaya kamu bertaqwa.”[9]

















BAB III
KESIMPULAN
Islam kaffah maknanya adalah : Islam secara menyeluruh, yang Allah ‘Azza wa Jalla perintahkan dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 208. Perintah kepada kaum mu`minin seluruhnya.
      Dari penjelasan yang sudah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa membentuk muslim yang kaffah dapat dikatakan mudah dan dapat pula dikatakan sulit. Mudah disaat muslim tersebut : Mau atau tetap menjalankan perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya,Mempunyai kepribadian, watak, sikap yang baik terhadap sesamanya. Memiliki sifat sosialisasi yang tinggi kepada sesamanya Memiliki akhlaq yang baik Menjaga keharmonisan, karena secara tidak langsung keharmonisan memberikan peranan yang banyak di dalam pembentukan muslim yang kaffah. Pembentukan muslim yang kaffah menjadi sulit disaat semua muslimnya melenceng dari hal yang disebutkan diatas.

kepribadian muslim yang kaffah terbagi dua macam, yaitu :
1.      Kepribadian kemanusiaan (basyariyah). Kepribadian kemanusiaan dibagi dua bagian, yakni :
a.       Kepribadian individu
b.      Kepribadian ummah
2.      Kepribadian Samawi Yaitu corak kepribadian yang dibentuk melalui petunjuk wahyu dalam kitab suci al-Qur’an

Ada beberapa ciri-ciri orang yang masuk kedalam islam secara menyeluruh dan sempurna:
1.      Mengerjakan atau meninggalkan sesuatu karena Allah Swt.
2.      Tidak mengharap imbalan dan sanjungan dari manusia.
3.      Sangat mengharap balasan dari Allah Swt.
4.      Sangat takut akan dosa dan azab Allah Swt.
5.      Sangat harap pada buah kebaikan.



[1] http://kajianislam.wen.su/kaffah.html

[2] Jami’atus Shalihin – Muslimun Kaffah    http://muslimunkaffah.com/?p=42
[3] http://kajianislam.wen.su/kaffah.html
[4] http://muslimkaffah.blogspot.com/2007/07/islam-kaffah.html

[6] Wa ttp://jabar.muhammadiyah.or.id/artikel-memahami-dan-mengerti-islam-kaffah-detail-25.htmlAllahu a’lam bi al- shawab.

[7] http://hbis.wordpress.com/2008/06/28/muslim-kaffah/Muhammad Al Al Hashimi
[9] Marimba, D. Ahmad. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. 1989. (PT. Al Ma’arif; Bandung)
http://datarental.blogspot.com/2008/09/kepribadian-muslim.html

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:
Free Blog Templates